Sejarah Desa

Desa Rejosari Kecamatan Karangtengah merupakan salah satu desa di Kabupaten Demak yang tergolong berkembang. Desa ini sudah dikenal oleh masyarakat Kabupaten Demak dengan ciri khasnya yaitu wedang (minuman) ‘Coro’.

Desa Rejosari terletak kurang lebih 3,5 km di sebelah barat Kantor Kecamatan Karangtengah. Lokasinya cukup startegis karena berada di sekitar aliran sungai Tuntang yang sudah ada sejak zaman Kesultanan Demak. 

Kata Rejosari sendiri berasal dari dua kata, yaitu Rejo (bahasa Jawa yang berarti ramai) dan Sari yang bermakna asri, makmur, dan sejahtera. Menurut cerita yang beredar di masyarakat, Desa Rejosari ini sering disinggahi oleh Raden Patah ketika sedang melakukan ‘Woso’ atau bersemedi. 

Kata Rejosari sendiri berasal dari dua kata, yaitu Rejo (bahasa Jawa yang berarti ramai) dan Sari yang bermakna asri, makmur, dan sejahtera.

Selain adanya sejarah nama desa tersebut, dukuh di desa Rejosari juga memiliki cerita tersendiri. Konon, dulu di Dusun Tegalsari banyak tanah tegalan (ladang) yang dibiarkan dan tidak ditanami. Suatu hari, terdapat utusan Raja yang tinggal cukup lama di tanah tersebut. Utusan ini senang bercocok tanam sehingga daerah tersebut dinamakan Tegalsari yang berarti tegalan yang indah karena beraneka ragam tanaman pertaniannya.

Seiring berkembangnya zaman, Desa Rejosari menjadi tempat tinggal dari banyak penduduk yang kebanyakan memiliki keahlian dalam pembuatan anyaman bambu dengan berbagai bentuk seperti tampah, wakul, besek, dan masih banyak lagi yang lainnya.